Kamis, 31 Mei 2012

KI Hajar Dewantara


Ki Hajar Dewantara
KI Hajar Dewantara dengan nama lengkap Raden Mas soewardi Soejadiningrat, lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Ki Hajar Dewantara berasal dari lingkungan Keraton Yogyakarta. Beliau menempuh pendidikannya di Sekolah Dasar Eropa/Belanda kemudian melanjutkannya ke Sekolah Dokter Bumiputera, namun pendidikannya ini tidak berhasil diselesaikan, beliau melanjutkan dengan bekerja sebagai seorang wartawan di beberapa surat kabar. Beliau merupakan penulis handal, tulisannya dinilai komunikatif dan tajam.
Ki Hajar Dewantara merupakan seseorang yang aktif dalam organisasi baik sosial maupun politik. Berkat keaktifannya dalam berorganisasi, beliau ingin menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya sebuah persatuan dan kesatuan maka beliau mendirikan sebuah organisasi di Yogyakarta dengan nama Boedi Utomo pada tahun 1908. Ketika Douwes Dekker medirikan Indische Partij, Ki hajar Dewantara pun aktif di dalamnya.
Beliau sempat ditangkap dan diasingkan ke Belanda pada tahun 1913 saat usianya 24 tahun akibat tulisannya yang dimuat dalam surat kabar De Express dengan judul “Seandainya Aku Seorang Belanda”. Dalam pengasingannya, beliau tetap aktif dalam organisasi pelajar asal Indonesia yaitu Indische Vereeniging. Tujuannya adalah ingin memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidika  hingga memperoleh ijazah pendidikan. Salah satu perwujudannya adalah dengan mendirikan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda. Taman Siswa ini didirikannya pada tanggal 3 Juli 1922.
Beliau wafat pada tanggal 26 April 1959 di Yogyakarta. Jasa-jasanya dalam bidang pendidikan membuat tanggal kelahirannya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, beliaupun dikukuhkan sebahai Pahlawan Nasional yang kedua oleh Ir. Soekarno, potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah dan semboyannya yang tak akan terlupakan “Tut Wuri Handayani”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar